MASIGNASUKAv102
6253852936442592765

Pendakian Gunung Sumbing Via Banaran (East Route)

Pendakian Gunung Sumbing Via Banaran (East Route)
Add Comments
Monday, 30 March 2020
Gunung Sumbing merupakan gunung berapi yang ada di Jawa Tengah dengan ketinggian 3371 mdpl yang juga merupakan gunung tertinggi ke-3 setelah gunung Semeru dan gunung Slamet. Gunung Sumbing berada di antara tiga kabupaten yaitu: Kabupaten Magelang; Kabupaten Temanggung; dan Kabupaten Wonosobo. Gunung Sumbing memiliki kembaran yaitu Gunung Sindoro, jika dilihat di Kabupaten Temanggung seperti gunung kembar, celah gunung ini menghubungkan Kabupaten Temanggung dengan Kabupaten Wonosobo.

Jalur pendakian Gunung Sumbing yang paling populer adalah via Garung. Namun ada beberapa jalur lainnya seperti Bowongso, Cepit, Lamuk, Butuh Kaliangkrik, Mangli Kaliangkrik, dan Banaran. Nah, jalur yang aku lewati saat itu via Pos Banaran (East Route), basecampnya terletak di Banaran, Tembarak, Temanggung. Untuk sampai ke Temanggung bisa ambil bis jurusan Temanggung atau kota terdekat (Wonosobo atau Boyolali terserah wkwk), turunnya di terminal Temanggung. Naik ke basecamp Banaran bisa pakai ojek sekitar 30rb atau katanya bisa naik angkot 25rb. Kalo aku si naik motor, coz dari Solo deket, tapi nyasar, kebetulan berangkat sore terus hujan, gps error, jadi nyasar sampai ke pemukiman dan pesarean.

Biaya Pendakian Gunung Sumbing

Mungkin kalian butuh nih perkiraan buat nggunung ke Sumbing, sebelum itu harus siap persiapan alat dan lainnya.
[GEAR WAJIB ADA]

-Pribadi
~ Kaos, T-Shirt, kemeja flanel etc. 
~ Celana panjang (bahan/lapangan) 
(minimal bawa 2 set pakaian)
~Jacket anget tebel (tidak disarankan jacket angkatan) 
~Sarung tangan
~Kaos kaki
~Sepatu Dan sandal kalo bisa
~Jas Hujan
~Matras
~Sleeping Bag
*Obat pribadi kalo ada

-Kelompok
-Carrier 60 L (3)
-Tas/ransel (2)
-Tenda 3-4p (1)
-kompor (1)
-Nesting (1set) 
-gas (2 botol) 
-senter (minimal 2)

-Logistik
-Air mineral (10 botol) 
-Mie instan (8 bungkus) 
-beras (1,5 kg) 
-Sarden (3 kaleng) 
-Malkist 
-Madu
-Susu/kopi
-Camilan tuku rea

Kekurangan kelompokku
-P3K
-Logistik kurang banyak
-dan tidak ada yang bawa senter tapi bawa power bank 3

Nah, biayanya berapa? Cuma 100rban per orang.
60rban buat sewa alat dan dome/tenda. Sisanya buat makanan dan bensin. Tapi itu sudah ada alat yang punya ya, seperti udah ada 1 tas carrier, kompor, sleeping bag. Jadi, siap-siapin duit lebih kalo buat naik ke Sumbing yang katanya bikin laper dan gak ada warung ya, gak kaya gunung Lawu.

Itinerary/ Rencana Perjalanan Pendakian Gunung Sumbing

Nih, itinerary yang temenku bikin
[SUMBING MEMANGGIL]
24 - 26 Februari Via Banaran,Temanggung
Senin, 24 Februari 2020
(Jam 14.00 WIB) 
Berangkat UNS ke Basecamp Banaran +- 3 jam
Nginep di BC semalam sekalian buat Aklimatisasi
Selasa, 25 Februari 2020
(Jam 08.00 WIB) 
Berangkat naik, target sore sampai di pos 4 buat nge-camp di sana
Rabu, 26 Februari 2020
(Jam 06.00 WIB) 
Summit menuju segoro banjaran, kawah, Puncak Rajawali. Harapannya jam 9 Pagi sampai puncak!. 
(Jam 10.00 WIB) 
Turun gunung sampe BC Banaran sore, Cuss bablas balik Solo
+- jam 9 Malam sampai di Solo, Aamiin
Rundown bersifat fleksibel menyesuaikan kondisi di lapangan

Dan bener, gak sesuai Rundown yang dibikin, kenapa? Baca terus ya wkwk

Pendakian Gunung Sumbing via Banaran (East Route)

Perjalanan dimulai di kos Arqom, kose Bang Bina, ini si Bang Bina H-3 malah gak jadi ikut. Jadi yang berangkat cuma 5 orang. Dari solo abis Ashar, sekitar pukul 16.00 menuju basecamp Banaran. Solo - Temanggung kalau menurut Mbah Google sekitar 3 jam-an saja, tapi berhubung udah sore dan hujan, perjalanan kami tempuh 4 jam dengan melewati pemukiman warga, jalan sempit, hutan, kuburan, dan alhamdulillah sampai basecamp Banaran sekitar jam 20.00. Oya, pas naik dari jalan raya menuju basecamp jalanan berkabut, jarak pandang hanya beberapa meter mungkin 2-3 meter saja.

Malam itu kami langsung checkin, jadi semua barang yang akan kami bawa ke gunung Sumbing harus dicek semua dan hitung terutama plastik sampai rokok yang akan dibawa dihitung per bijinya.
Waktu dicek, kelompok kami ini seperti gak niat muncak (Meminimalisir budget mas wkwk). Dicek sama mas-masnya, logistiknya sepertinya kurang, terus makanan ringan buat ngemil gak ada, dan yang lebih parah lagi P3K-nya gak ada. So, kami beli tuh, ada roti, permen, tolak angin (satu orang harus bawa 1), makanan ringan, sama P3K. Ternyata, bungkus permen itu paling rawan kebuang, jadi ada beberapa permen kita buka satu-satu terus dimasukin ke satu plastik/ wadah. Jas hujan jangan lupa bawa, coz bakalan hujan.

Tips : Kalau mau muncak pas musim hujan, ada saran sama mas-masnya, kalau barang yang dimasukin carrier itu di masukin ke trash bag, jadi barang-barang tetep kering.

Malam itu kami tidur di basecamp, gak dingin waktu malam tapi pas udah jam 4 pagi udah terasa dinginnya. Oya lupa, di basecamp ada kantinnya, kantinnya murah loh, makannya pokwe (njipok dewe)/ prasmanan, nasi+sayur+telur cuma Rp8.500. Teh anget Rp2.500. Ada juga sewa alat tapi ada sedikit peralatannya.

Setelah dirasa cukup persiapannya sekitar pukul 08.00, kami langsung bilang ke resepsionis (mas-mas yang jaga) dan pesen ojek ke pos 0. Biaya sekali jalan untuk ojeknya sebesar Rp25.000. Motor yang aku naikin pas udah setengah jalan mogok, jadi harus ganti motor. Sensasi luar biasa naik ojeknyaa, samping kanan jurang, jalanannya batu, mas ojeknya ngebut dengan kecepatan tinggi, serta ciri khas motor gunung yang dimodif + knalpot bobokan, jadi harus pegangan kuat-kuat.

Aku sempet baca-baca dulu di internet, gunung Sumbing ini cocok gak buat pemula? coz ini kali keduaku naik gugung, yang pertama gunung Lawu. Semuanya bilang tidak cocok, cari gunung lain aja, malah ada yang nyaranin naik gunung Prau aja, kata temenku seperempatnya gunung Sumbing.

Dari pos 0 langsung berhadapan dengan jalan yang agak curam dengan tanah yang bukan tangga, mirip jalan. sekitar 10 menitan kami sampai di Dongbanger, ada mata airnya. Disini juga ada shelternya. Perlahan namun tidak pasti akhirnya kami sampai di Kedai Kopi Gane Sari pukul 09.30, tutup saat kami ke sini, katanya si buka pas weekend aja. Belum sampai pos 1, perjalanan masih panjang.

Pendakian kami kemudian berlanjut dengan anak tangga yang panjang sampai pos 3.
Pukul 10.14 kami tiba di pos 1, kondisi pos 1 roboh, mungkin karena angin. Cuaca mulai berkabut tapi tak begitu dingin. Lanjut menuju pos 2, kondisi jalan masih anak tangga terus tak ada landainya, banyak pohon tumbang karena gunung Sumbing baru kebakaran beberapa bulan yang lalu.

Akhirnya pada pukul 11.45 kami sampai di pos 2, disusul orang Tangerang yang solo hiking. Kami beristirahat sejenak, dirasa sudah cukup kami melanjutkan perjalanan.

Masih dijalan yang sama, beratus-ratus anak tangga masih menghadang di depan sana, bekas pohon tumbang mulai menjadi banyak. Gerimis mulai menerpa, masih gerimis kami masih terus jalan, saat mulai deras kami bergegas memakai jas hujan.

Bekas kebakaran menutup jalan pendakian sehingga dibuat jalan pendakian baru, sulit untuk dilewati dengan tanah yang gembur dan licin. Hujan mulai deras kami bergegas menuju pos 3.

Hujan sangat deras, kami sampai di pos 3 sekitar pukul 13.24. Ternyata mas dari Tanggerang sudah ada di pos 3, dan gak kehujanan. Hujannya deras dan begitu awet, kami memutuskan menunggu hujan reda. Ada rombongan datang 3 orang, ikut ngiub di pos 3.

Dirasa hujan sudah reda, kami melanjutkan perjalanan. 4 orang tadi sudah duluan jalan. Sekitar pukul 15.45, waktu yang sudah mulai sore kami baru menuju pos 4. Jalan menuju pos 4 sangat licin dan susah, jalanannya seperti jalan buat aliran air. Rombongan kami disusul oleh rombongan yang hanya terdiri dari 2 orang, padahal kami mulai mendaki duluan, maklumlah orang-orang pemula semua, cuma ada 2-3 saja yang sudah pro.

Akhirnya yang ditunggu, yang katanya seru dan ingin mencoba. Wathu Ondho. Ya, itu namanya. Jadi kami harus memanjat batu, dengan 2 utas tali yang membantu. Sebelah kiri jurang terjal, kanannya dihimpit batu, seperti inilah penampakannya.

Setelah kami bergilir memanjat dengan saling support menunjukkan pijakan, dengan melangkah beberapa puluh meter akhirnya sampai di pos 4, tempat ber-camping. Kami mulai mendirikan tenda pukul 17.50, gerimis mulai menerpa, kami harus bergegas.

Tenda telah berdiri tegak, kami beristirahat membuat makanan dan minuman, lepas itu tidur. Cuaca malam tidak begitu dingin, berbeda dengan gunung Lawu yang sangat dingin. Lepas dini hari udara mulai dingin, cuaca sangat cerah, gemerlap lampu-lampu kota begitu indah serta banyak bintang-bintang yang menampakkan dirinya.

Pukul 4.15, kami summit menuju puncak, penerangan hanya mengandalkan flash hp. Oya, di sini masih ada sinyal 4G lohh, jadi bisa live report di gunung.

Tak terduga oleh pendaki pemula seperti diriku, ternyata jalan menuju puncak masih panjaaanggg. Harus naik terus, lewati sungai, samping kanan jurang.
Sayang amat disayangkan, waktu sunrise tertutup awan dan tidak mendapatkan view yang bagus. Namun itu bukan menjadi penghalang buat kami naik.

Tepat pukul 06.49 kami tiba di Segoro Banjaran, tempatnya landai, banyak rumput besar-besar, kanan kiri tebing tinggi. Di peraturan tidak boleh ngecamp di Segoro Banjaran, karena pernah ditemukan fosil macan kumbang dan rusa.

Pukul 07.00 kami tiba di persimpangan, menuju puncak Rajawali, puncak Sejati dan menuju Kawah. Kami memutuskan pergi ke Puncak Rajawali.

Jalanan curam, sampingnya juga jurang lagi. Tenaga sudah habis, tapi perlahan namun pasti akhirnya kami sampai puncak Rajawali sekitar pukul 9-an.
Kondisi langit sudah muncul beberapa awan, arah timur sudah tertutup awan. Dari sini terlihat jelas gunung sindoro dan gunung Slamet. Setelah puas berfoto-foto, kami turun.

Sampai di tenda sekitar jam 12-an. Kami kekurangan air, jadi harus ngambil dulu ke mata air. Nah, pas ambil air, kita ragu itu air kobangan apa mataair asli. Tapi ya sudahlah.
Hari itu kami tidak langsung pulang karena hujan serta ada angin juga.

Malamnya badaiiii, tenda sebelah sampai roboh, petirnya juga galak bener, suaranya keras sekali dengan kilatan yang nampak terang dari dalam tenda.
Paginya masih gerimis, anginnya masih kencang. Begitu hujan reda, kami melepas dan mempacking barang dengan angin kencang yang masih mengganggu.
Akhirnya sampai di basecamp jam 2 siang.

Mas Noor

Bukan siapa-siapa, hanya seseorang.